Beritabola.com Jakarta - Mendekati jadwal kick-off IPL
alias Indonesian Premier League (atau Liga Prima Indonesia?), kompetisi
terancam mandek sebelum dijalankan. Hal ini terjadi setelah manager
meeting klub-klub tak menemukan kata sepakat.
Beberapa isu yang
menjadi
penyebab panasnya rapat antara lain, pertama, mengenai jumlah peserta
liga, yang ternyata belum tuntas walaupun PSSI telah mengetok palu IPL
diikuti 24 klub. Sebagian besar klub eks Indonesia Super League (ISL)
menolak "tiket gratisan" bagi enam klub lainnya. Menurut mereka ini
melanggar semangar fair play dalam ola raga.
Kedua, pembagian
saham yang awalnya dijanjikan 99% untuk klub-klub ternyata tak sesuai
harapan. Sebaliknya, klub hanya akan mendapat bagian yang jauh lebih
kecil. Ketiga, mayoritas klub meragukan kompetensi PT Liga Prima yang
akan menggeber kompetisi. Soalnya, dari jadwal sampai manual liga masih
amburadul. Padahal kompetisi tinggal menunggu waktu. Lalu muncul
tuntutan mengembalikan penyelenggaraan kompetisi ke PT Liga --
penyelenggara ISL musim lalu -- yang dianggap lebih siapdan
berpengalaman.
Imbas dari deadlock rapat tersebut, perpecahan di
klub tak terhindarkan. Sekitar 14 klub menolak IPL dengan format seperti
saat ini, sementara 10 klub lainnya ikut keputusan PSSI. Jika ditelisik
lebih dalam, 10 klub yang setuju dengan IPL adalah mereka yang terkait
atau melakukan merger dengan eks klub-klub Liga Primer Indonesia (LPI).
Persijap misalnya, walau berstatus eks klub ISL, namun krisis keuangan
membuat klub Jawa Tengah itu melakukan merger dengan Bogor Raya FC yang
dimiliki konsorsium LPI. Begitu juga dengan Persiraja, yang di dalamnya
ada unsur Aceh United; atau Persema, Persibo maupun PSMS, yang tak lepas
dari aroma konsorsium.
Kehilangan momentum
Mengapa ini
semua muncul? Tak sulit menemukan jawabannya. Problemnya ada di PSSI
hasil "revolusi" itu sendiri. Mereka yang menang pada Kongres Luar Biasa
(KLB) di Solo beberapa bulan lalu gagal memanfaatkan momentum
"kegerahan" publik terhadap rezim Nurdin Halid.
Seharusnya
Djohar Arifin Husin cs tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti
pendahulunya. Satu yang mencolok adalah, akomodasi kepentingan yang
berlebihan dari "dewan syuro" yang kembali dilakukan. Kalau dulu Nurdin
tak bisa lepas dari bayang-bayang kelompok Bakrie, kini Djohar
sepertinya tak bisa keluar dari lingkaran kelompok Arifin Panigoro.
Kedekatan-kedekatan seperti itu sejatinya tidak jadi soal selama tidak
menganggu kinerja PSSI, dan hubungannya dengan klub-klub. Faktanya,
belum genap tiga bulan umur kepengurusan baru, sederet masalah
menghadang.
Menghadapi panasnya kursi PSSI, elit di sana mulai
tak kuasa menahan tekanan. Akhirnya sejumlah keputusan yang
kontroversial -- sebagaimana disinggung di atas -- muncul dan
mengakibatkan polemik pajang. Seperti idiom terkenal, "sedetik setelah
revolusi berhasil, sang revolusioner akan berubah menjadi konservatif
baru".
Ungkapan ini tampaknya cukup tepat untuk menggambarkan
kondisi yang dialami PSSI sekarang ini. Terlihat kepanikan di PSSI
sehingga di antara pengurus dan Komite Eksekutif (Exco) berbeda
pendapat. Salah seorang anggota Exco jauh sebelum deadlock ini
menegaskan bahwa format kompetisi terbaru tidak ideal dan cacat hukum.
Artinya di kalangan Exco terjadi perpecahan -- sesuatu yang tidak
produktif bagi lembaga yang baru seumur jagung.
Bahkan ada isu
KLB kembali mengemuka. Para penggeraknya adalah sejumlah klub yang tak
mau menerima peserta dari LPI. Sejumlah petinggi klub dan anggota Exco
kini tengah menyusun gerakan untuk melakukan apa yang mereka sebut
sebagai "ledakan". Kondisi tenang saat i ni bukan berarti tak ada
gejolak di balik layar. Hanya perlu momentum saja untuk meluapnya
kekecewaan-kekecewaan itu. Momentum dan "ledakan" pertama sudah keluar
di manager meeting, sebagaimana awal tulisan ini.
Apalagi blunder
lanjutan kembali dilakukan PSSI terkait sengketa pengelola klub.
Persija, Arema dan Persebaya, yang notebene merupakan klub-klub dengan
suporter fanatik, mengalami perpecahan. Ironisnya, pihak yang ditunjuk
PSSI untuk mengelola klub bukan dari kelompok yang memiliki kaki di
suporter. The Jakmania secara tegas menolak Persija versi PSSI, begitu
juga dengan Aremania yang mewacanakan memboikot pertandingan Arema.
Kalau ini benar-benar terjadi, apa yang bisa kita harapkan dari liga
yang disebut profesional? Ingat, suporter adalah nyawa sepakbola. Tanpa
pendukung loyal, maka pertandingan akan hambar.
Kondisi
psikologis pemain juga tak dipikirkan oleh PSSI, terutama pemain yang
masuk tim nasional. Nama-nama seperti Bambang Pamungkas, Ahmad Bustomi
atau Arif Suyono selama ini menjadi andalan timnas. Di saat yang sama
mereka sekarang tak memiliki klub setelah pengelola klubnya dianulir
PSSI. Padahal Bepe -- sapaan akrab Bambang -- dikenal loyalis sejati
Persija. Ia tak pernah main di klub lain di dalam negeri kecuali
Persija. Dan kini Persija yang dinaungi Bepe tak masuk kompetisi.
Kondisi serupa dialami Bustomi dan Arif -- dua ikon Arema -- ang
terpaksa pergi ke Mitra Kukar setelah keluar keputusan PSSI.
Beban psikologis
Di
saat yang sama PSSI mengharapkan pengorbanan pemain-pemain tersebut
untuk membela timnas lolos dari lubang jarum kualifikasi Piala Dunia
2014. Apa yang ada di benak ketiga pemain di atas, juga pemain lainnya,
terhadap tuntutan pengurus PSSI? Tiga kekalahan beruntun dari Iran,
Bahrain dan Qatar mungkin saja disebabkan konsentrasi pemain yang
terganggu dengan gonjang-ganjing PSSI baru ini. Sulit membayangkan para
pemain dapat bertempur penuh semangat di lapangan dengan permasalahan
kondisi klub dan kompetisi yang carut-marut. Bahkan tak menutup
kemungkinan konflik antara pelatih timnas, Wim Rijsbergen, dengan pemain
beberapa waktu lalu dipicu oleh kondisi yang tidak stabil di atas.
Makanya kita sebagai masyarakat bola tak berharap muluk dari timnas saat
ini. Lebih baik kita membangun sepakbola nasional yang sehat, kompetisi
yang fair tanpa politisasi sehingga nantinya muncul pemain-pemain
bertalenta yang siap mengharumkan bangsa.
Hanya itu jalan keluar
untuk meningkatkan prestasi sepakbola kita. Semoga kemelut di PSSI
sekarang ini cepat ditemukan jalan keluarnya demi kelangsungan kompetisi
dan timnas kita di masa depan.
Zaenal A Budiyono*
Revolusi PSSI Kehilangan Momentum
Posted on Friday, October 14, 2011
Save Our Earth
Pages
Powered by Blogger.
Popular Posts
-
Belajar komputer sekarang ini tidak harus terpaku pada kepemilikan komputer, saya sendiri tidak memilik komputer dan tidak memiliki laptop...
-
Cukup menekan satu tombol, sayap yg terentang sepanjang 10 meter itu terlipat rapi di kedua sisi pesawat. Begitu sayap terlipat dalam wakt...
-
cara mengambil password facebook orang [UNCENSORED] wah, inbox w penuh... isi nya rata2 pada nanyain "gimana cara ngambil password ...
About Me
- Fatir Putra Petir
- Ketika orang memiliki 1000 alasan untuk menyerah,, kita pun harus memiliki 1000 alasan untuk terus berusaha...!!!